Sejarah Ubud: Dikenal Mulai Abad ke-7, Berasal dari Kata Ubad - Beritabali.com

About Bali

Sejarah Ubud: Dikenal Mulai Abad ke-7, Berasal dari Kata Ubad

Minggu, 10 Oktober 2021 | 10:45 WITA
Sejarah Ubud: Dikenal Mulai Abad ke-7, Berasal dari Kata Ubad

beritabali.com/foto: wikipedia/Sejarah Ubud: Dikenal Mulai Abad ke-7, Berasal dari Kata Ubad

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, GIANYAR.
Mengenang Waktu Kecil
Saya dilahirkan tahun 1962. Saya mengenal Ubud pada tahun 1970. Tidak banyak kendaraan saat itu. Kendaraan umum yang ada adalah bus chevrolet dimana setiap beberapa kilometer harus diisi air lagi karena generatornya panas. Namun memasuki Ubud dari Desa Sakah, sudah terasa udaranya sejuk baik pagi maupun siang hari karena dipinggir jalan banyak pohon, terutama pohon leci. Pohon ini juga ada di depan rumah kami. Kami punya 4 pohon besar pohon leci. Pada saat itu hanya beberapa artshop yang ada, terutama di Mas. Artshop tersebut adalah artshop Ida Bagus Nyana & Son, Ida Bagus Anom di Ubud. Ada juga artshop yang menjual lukisan seperti Neka, Adipati Soeryo.
Pemandangan persawahan masih terlihat dengan bentangan Gunung Agung yang tampak menakjubkan. Kalau kita makan, ada warung nasi campur di pinggir jalan di Teges yang sekarang sudah 3 generasi berjualan dengan pengolahannya saya lihat tetap seperti yang lampau. Di pusat desa Ubud, antara Puri dan pasar dulu ada penjual nasi ayam garang asem, tepatnya di depan Puri Ubud. 
Pedagangnya bernama Gusti Aji Negari dan sekitar Wantilan ada pedagang makanan Bali. Ada wantilan besar yang sekarang bisa kita lihat. Tempat itu pada waktu dulu oleh masyarakat dipergunakan untuk persiapan upacara dan sabungan ayam. Di Wantilan ini banyak terdapat burung merpati yang turun ke jalan di depan Puri, jumlahnya hampir ratusan ekor. Kalau sore kita bisa melihat ada banyak petani yang menggotong padi dan hasil perkebunannya. Sekarang cerita ini banyak kita lihat ada pada lukisan yang terpampang di museum atau artshop. 
Sore hari biasanya masyarakat berjalan kaki menuju tempat pemandian di Sungai seperti Campuhan, Mumbul ataupun pancuran yang airnya masih jernih. Biasanya air dari beberapa mata air ini dibawa pulang untuk air minum tanpa dimasak. Malam hari udaranya dingin sekali di Ubud. Penerangan yang ada hanyalah lampu sentir dan petromak hanya sampai jam 8 malam saja karena ada keterbatasan minyak saat itu. Listrik belum ada. Kalau belajar pada malam hari, maka besok paginya muka ini sudah kena abu hitam karena memakai penerangan sentir. Hanya ada satu-satunya tempat yang memiliki penerangan listrik pada saat itu yakni Artshop Adipati Soeryo. Pemilik tempat ini memakai generator dan hidup / buka sampai jam 9 malam.
Halaman :

TAGS : Ubud Sejarah Ubud Tjokorde Gede Sukawati Kolonial Belanda Kesenian Budaya Seniman Seniman Lukisan Berita Bali Berita Bahasa Bali Berita Berbahasa Bali Berita Bali Terkini Berita Bali Hari Ini Beritabali Informasi Bali


informasibali.com - Media Online Bali, Positif dan Inspiratif

Informasi Bali Terkini, Menyajikan Berita Pendidikan, Kesehatan, Wisata, Pertanian, Bisnis, Sosok, Komunitas, Info Warga di Bali, Nasional, Dunia.



About bali Lainnya :


Berita Lainnya

Trending About Bali

Berita Gianyar Terkini

Lihat Semua

Berita Bali TV